Minggu, 31 Maret 2013

Kantin Kejujuran STAN, Pernah Ada.


Waktu itu kami berempat sedang mendiskusikan sebuah proyek (dalam istilah kuliah bisa disebut kegiatan yang merupakan bagian dari program). Saya berkata “keren gan, kita hanya berempat dan akan mengeksekusi ini, gedung udah dapat ijin, peserta udah, program udah, tanggal sudah disetujui sama pihak sana, tinggal pengisi acara, siapa yang akan mengisi?, mencari yang ahli dibidangnya atau ..., “. tiba2 ide yang menyenangkan itu muncul.

Ide itu muncul dari Firman, sosok yang ramah , mudah akrab dengan masyarakat, dan entah bagaimana caranya dia mudah sekali mendapat informasi dari masyarakat. Ide ini berawal dari kegelisahannya saat kuliah di gedung I, saat melihat mahasiswa kesusahan mencari minum (harus ke Indomaret/lawson/koperasi Gd. B), dan tentunya saat merasakan sendiri kesusahan tersebut. Kita akan membuat kantin kejujuran di setiap gedung perkuliahan di STAN, itulah ide Firman.

Setelah menggunakan ilmu akuntansi sederhana, dengan asumsi tidak ada uang yang hilang, kami menyimpulkan ide kantin akan menghasilkan free cash flow yang lebih banyak daripada proyek lama. Oke kita akan menjadikan proyek ini proyek utama jangka pendek. Ini seperti colombus yang mencari India timur, tapi kesasar dan menemukan benua Amerika. :D

Nah masalahnya kami akan membuka kantin tanpa naungan elemen kampus satupun, tanpa naungan organisasi kampus satupun, bagaimana caranya? Langsung saja kami bertanya ke Pak Asri (alm). Beliau sangat mendukung rencana kami, kami jadi makin semangat deh. Beliau berkata mahasiswa memang harus bisa mencari tambahan uang, realisasi kantin bisa diatur asal ada tanda tangan dan stempel dari BEM. Alhamdulillah BEM mau menandatangani surat kami. Menurut saya, Ini adalah bukti bahwa BEM STAN memang mempermudah mahasiswanya dalam mengembangkan diri sesuai minatnya. Akhirnya kampus mengijinkan kami menggunakan gedung I dan J, sementara gedung C, D, dan E tidak diperbolehkan karena sedang di renovasi. Yeee akhirnya ada kantin kejujuran gedung I dan J.

Ayo kita mulai ceritanya. Apa yang akan kami jual? Kami akan menjual minuman dan makanan, tetapi kami tidak akan menjual gorengan. Kami tidak ingin bersaing dengan adik2 kecil yang berjualan gorengan di kampus kami. Adik-adik kecil tersebut luar biasa, di saat anak lain istirahat siang dan sore, dia mencari uang untuk keperluan. Sungguh menyedihkan jika kami mahasiswa STAN yang tidak membantu adek2 tersebut malah bersaing dengan mereka. Mahasiswa sebaiknya membantu masyarakat, bukan mematikan usaha masyarakat (termasuk adek2 gorengan). Kami setuju, Alhamdulillah tidak ada satupun yang berfikir kita akan tetap berjualan gorengan dengan dalih membantu pembuat gorengan. Alhamdulillah, tidak ada yang berfikir kita menghilangkan peluang berupa akses menaruh gorengan ke gedung2.

Beberapa hari pertama kami melakukan semuanya sendiri, kami mengantar beberapa kardus aqua dan makanan, mengeceknya di siang hari, merapikannya di sore hari, lalu kulakan. Ini tentu sebuah masalah, ngangkat aqua itu berat lhoo, di tambah lagi ada kegiatan lain yang harus kami lakukan (misalnya: rapat dan ngajar). Nah akhirnya kami begini: (1)pesen Aqua dan makanan di toko lalu aqua2nya dianterin sama petugas toko, (2)paginya barang2 kami dianterin sama bapak2 yang profesinya jual nasi goreng dan pengumpul barang bekas, (3) sisa makanan dan Aqua kami titipin di gedung CS, (4) kami cukup menata dan merapikan J. Dikarenakan bapak yang nganter aqua susah bangun pagi akhirnya kami mencari pengganti, akhirnya ada tukang becak yang mau melakukannya.

Setelah berjalan beberapa minggu, kami akhirnya dibantu suatu kepanitiaan yang mempunyai acara  ngajak adek2 kecil ke Museum. Mereka yang menyediakan dan mengurusi makanan, semua keuntungan makanan untuk mereka. Kami juga akhirnya di bantu dua orang teman hebat yang mengaku ingin  punya tambahan aktifitas. Merekalah Dhimas dan Rizki, dua teman baru kami yang semangat kerjanya tidak diragukan lagi.

Agar tidak terkesan kantin siluman, maka harus ada yang ditokohkan, harus ada orang yang akan dikenal publik sebagai pengurus kantin ini. kami semua berkontribusi, namun cukup 1 nama yang dikenalkan ke publik. Maka dipilihlah Septa, sosoknya yang cekatan, berkomitmen, to the point, dan banyak dikenal mahasiswa STAN membuat dirinya cocok untuk dikenal sebagai pemain utama usaha ini.

Kami memulai kantin ini dengan tujuan yang sama, yakni untuk belajar. Maka kesalahan-kesalahan kami saat mengurus kantin ini adalah sebuah pelajaran. Nothing free lunch, termasuk untuk belajar, kami membayar belajar dengan waktu yang kami curahkan dan hilangnya potensi keuntungan yang seharusnya kami dapatkan. Di sini pula saya belajar bagaimana memadukan sudut pandang yang berbeda, saya yang book and planned based + general view bertemu dengan teman yang just do it dan detil, . Secara teori ini memang saling melengkapi, namun secara praktek ini butuh waktu yang melelahkan, dan saya belajar itu di sini. Alhasil sekarang saya menjadi orang yang memperhatikan detil, terimakasih untuk viewnya kawan ^_^

Nah, ada 1 lagi teman hebat kami, dialah yang paling bisa melihat “sebentar lagi masalah datang”.  Dia yang pertama mengusulkan bahwa kita harus dibantu oleh orang lain (mulai dari mengantar Aqua), kita tidak akan mengerjakan ini semua sendiri. Salah satu hal terhebat yang dia miliki adalah kemampuannya mendengarkan. Saya yakin, tidak ada satu orangpun yang memusuhinya, atau sekedar sebel dengan sikapnya. Yup, dialah Yufe.

Kebahagiaan terbesar kami adalah saat melihat kantin tersebut dikerumuni banyak orang, saat mendengar mereka senang bisa membeli minum di tempat yang dekat, dan saat melihat senyum tukang becak dan CS gedung. Kami juga senang saat bisa bekerja sama dengan beberapa mahasiswa lain, menambah persahabatan. Kebahagiaan itu makin lengkap saat melihat pertambahan angka di laporan keuangan sementara. ^_^

Proyek ini berjalan 1,5 bulan dan akhirnya kami tutup karena kami tidak bisa menyanggupi persyaratan yang diberikan oleh pihak kampus (desain kantin harus bagus dan menyatu dengan arsitektur gedung). Di hari terakhir, jumlah kapitalisasi kantin mencapai hampir sepuluh kali lipat modal awal (exlude setoran modal karena setoran modal sudah kami tarik perlahan2). Proyek berakhir, sistem yang sudah running dengan bagus tinggal catatan. Diskusi ekspansi dan praktek membuat SOP yang kontinyu pun tinggal kenangan. Namun kami tetap tersenyum, setidaknya kami pernah membuat satu kegiatan di antara selautan kegiatan mahasiswa STAN.
Selanjutnya kami bermaksud mengadakan proyek baru. Demi mensukseskan hal tersebut, kami melakukan riset berkali-kali. Dari riset inilah saya mengerti kenapa pabrik sebesar Toyota mempunyai dana riset tidak terbatas :D. akhirnya proyek tersebut kami putuskan gagal dan kami memulai proyek baru lainnya. Mari berdoa kawan semoga proyek baru kami mampu memberi kemanfaatan kepada sesama dan kami dimudahkan baik dalam merencanakan maupun mengeksekusinya.