Rabu, 30 Januari 2013

SUARA MAHASISWA, Menyelamatkan Eropa Untungkan Indonesia (Sindo, 24 Juli 2012)

oleh : Catur Sugiarto (Mahasiswa Sekolah Tinggi Akuntansi Negara)
Krisis Eropa tak kunjung menemui ujungnya. Tindakan Spanyol dan Italia dalam menangani krisis menandakan semakin kompleksnya krisis ini. Belum jelas juga apakah Yunani akan tetap bertahan di zona euro atau hengkang dan menggunakan mata uang sendiri.

Sampai saat ini belum jelas juga skema seperti apa yang akan menyelamatkan benua biru tersebut. Sebagai organisasi yang bertanggung jawab atas sistem keuangan internasional, IMF diharapkan mampu menangani krisis ini dengan cepat. IMF saat ini membutuhkan tambahan dana USD430 miliar untuk menangani gejolak di Eropa. Dana yang akan digunakan sebagai pertahanan lapis kedua ini direncanakan akan diperoleh melalui penjualan surat utang kepada negara-negara G-20.


Saat pertemuan internasional G-20 di Los Cabos,Meksiko,para pemimpin negara G-20 telah menyampaikan komitmennya untuk membantu IMF. Sebagai anggota dari perkumpulan negara maju dan berkembang tersebut, Indonesia ikut berpartisipasi dalam penggalangan dana segar ini. China, negara dengan perekonomian terbesar di Asia ini, memberikan komitmen untuk membeli USD43 miliar surat utang IMF.


Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh. Sebagai negara yang sangat bergantung pada ekspor, China tentu berharap ekonomi Eropa segera pulih agar konsumsi masyarakat di sana kembali meningkat dan barang-barang China banyak dibeli. Dengan kata lain, salah satu tujuan China membantu IMF adalah untuk memulihkan perekonomian China. Seperti China, Indonesia pun akan diuntungkan ketika membeli surat utang IMF.


Krisis yang terjadi saat ini memberikan dampak negatif kepada Indonesia,baik secara langsung maupun tidak. Secara langsung misalnya menurunnya jumlah wisatawan asing yang berasal dari negara krisis,menurunnya jumlah ekspor Indonesia ke Eropa, dan sentimen negatif IHSG yang disebabkan ketidakjelasan penyelamatan Eropa.Secara tidak langsung, ekspor Indonesia ke China akan terganggu.


Indonesia akan membeli surat berharga IMF senilai USD1 miliar. Uang tersebut akan diambilkan dari devisa negara.Uang tersebut bukan berasal dari APBN sehingga tidak akan mengganggu program-program pemerintah, termasuk program pemberantasan kemiskinan.Bukan sesuatu yang salah jika devisa yang sejatinya digunakan oleh Bank Indonesia untuk menstabilkan ekonomi tiba-tiba digunakan untuk mengatasi dampak krisis global terhadap perekonomian nasional.


Keuntungan lain yang diperoleh Indonesia dalam membantu memberikan dana segar ke IMF adalah menaikkan posisi tawar Indonesia di IMF dan sebagai ajang pembuktian bahwa Indonesia adalah negara besar yang peduli dengan stabilisasi ekonomi global